Teknologi Pemantau Curah Hujan Buatan UI

Teknologi Pemantau Curah Hujan Buatan UI

Teknologi Pemantau Curah; Seringkali curah hujan dalam jumlah tertentu bisa mengakibatkan bajir. Oleh karenanya, untuk bisa memprediksi jumlah curah hujan, maka di butuhkan alat pemantau. Berkaitan dengan hal tersebut, tim dari Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang di ketuai oleh Dr. Eng. Supriyanto memasang teknologi pemantau curah hujan di area Sungai Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan.

Teknologi karya anak bangsa tersebut di beri nama Pantir. Kehadiran teknologi ini di sebut sejalan dengan Rencana Strategis Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia (UI) Tahun 2020-2024, salah satunya adalah mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan teknologi demi menjawab tantangan persoalan di tengah masyarakat.

Supriyanto mengatakan Pantir memiliki kemampuan untuk mengukur intensitas curah hujan, tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah, suhu dan kelembaban lingkungan di area pemasangan. Menurutnya, dengan memanfaatkan Pantir peningkatan potensi bencana banjir yang kerap mengancam masyarakat Indonesia saat musim penghujan dapat di ketahui lebih awal, sehingga dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat di hindari atau di minimalisir.

Pantir dapat di andalkan untuk memitigasi bencana banjir melalui pemantauan tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah dan intensitas curah hujan di wilayah tangkapan air (catchment area) Ia juga mengatakan, hasil pengukuran dari Pantir bisa di akses oleh masyarakat melalui website pada tautan https://dev-pantir.geosinyal.id dengan mengisi alamat email: [email protected] dan password: public.

Dalam kondisi normal.

Hasil pengukuran alat Pantir akan di-update setiap 10 menit. Namun, pada kondisi siaga. Hasil pengukuran di-update setiap 5 menit atau bahkan setiap 3 menit. Pantir di rancang dan di kembangkan di Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI .

Pantir mulai diuji coba di lingkungan yang sesungguhnya sepanjang tahun 2020, yaitu di kawasan kampus UI dan Kota Depok. Memasuki tahun 2021 hingga 2022 pantir juga telah di pasang di tiga sungai di Jawa Barat. Yaitu sungai Ciliwung di Kota Depok, sungai Cibeet di Kabupaten Karawang, dan yang terakhir dan baru saja di lakukan adalah di sungai Citengah di Kabupaten Sumedang.

Di dalam teknologi ini tersemat sebuah elektronika digital berupa mikrokontroler 32-bit yang dapat mengendalikan sensor pemantau ketinggian muka air dan sensor intensitas curah hujan. Data hasil pantauan Pantir dapat di simpan dalam SD-Card ataupun dikirim ke database server melalui jaringan internet.

“Pemantauan oleh pantir di lakukan secara langsung (real time). Kelebihan lain dari Pantir adalah adanya fitur receiver GPS sehingga waktu pemantauan (tahun. Bulan. Hari. Jam. Menit. Detik) tersinkronisasi dengan server maupun stasiun Pantir lainnya. Keunggulan lainnya adalah sumber listrik tenaga surya yang mendayai Pantir membuatnya terbebas dari ketergantungan PLN. Sehingga Pantir dapat di tempatkan di remote area. Dengan konsumsi daya maksimal 15 Watt, baterai pantir dapat bertahan hingga 3 hari tanpa suplai dari matahari.

Teknologi