SMK Ini Dirikan Industri Teknologi Kelas Dunia di Salatiga

SMK Ini Dirikan Industri Teknologi Kelas Dunia di Salatiga

Seorang pria asal Kota Salatiga bernama Arfian Fuadi (36) memiliki industri kecil menengah (IKM) berbasis teknologi bernama Dtech-Engineering. Tidak hanya berinovasi dan memproduksi alat canggih, industri ini juga memberikan pelatihan pada anak bangsa untuk bisa berinovasi. Arfian Fuadi bersama rekan dan adiknya mendirikan Dtech Engineering pada tahun 2009. Mereka mencari peluang lewat situs online dan bekerjasama dengan perusahaan berbasis crowdsourcing.

Terus berkembang dan dikenal, pada tahun 2013 mereka memberanikan diri mengikuti Kompetisi Global Challenge untuk membuat desain bracket jet yang diadakan oleh General Electric, salah satu perusahaan besar asal Amerika. Mereka berhasil menyabet juara pertama dan mengalahkan 700 lebih peserta yang berasal dari 56 negara yang bahkan merupakan ahli di bidang pesawat. Pada 2017 Dtech Engineering kembali mengikuti ajang kejuaraan yang sama dan kali ini membuat alat untuk menginspeksi bagian dalam mesin jet karena mesin jet memang selalu harus diinspeksi setiap 500 jam terbang dan untuk memeriksa bagian dalam. Mereka kembali menyabet juara pertama. Dtech Engineering pun makin dikenal.

“Berangkat dari kita sudah pernah menang kejuaraan pada tahun 2013 dan 2017 dan mendapatkan juara 1 dan kita sudah mengerjakan berbagai projects. Dengan portofolio kita, tanpa kita cari project, orang pun sudah mengantre kerjasama dengan kita,” jelasnya saat diwawancara detikJateng di markas Dtech Engineering, Canden, Salatiga, Arfian dan tim yang awal mulanya hanya merupakan sebuah firma desain yang menerima pekerjaan dari luar negeri sadar bahwa Indonesia pada saat itu tahun 2018 jumlah paten globalnya sangat rendah. Akhirnya mereka membuat terobosan baru dengan membuat project yang bertujuan untuk meningkatkan indeks inovasi Indonesia.

“Kami dulu kan design firm, jadi firma desain nerima kerjaan dari luar. Tahun 2018 ternyata jumlah paten global Indonesia pada tahun itu rendah, posisi Indonesia saat itu 1/10 dari Amerika, kita ada di bawahnya. Kemampuan inovasi kita pada saat itu lebih jelek,” papar Arfian Setelah melakukan riset yang mendalam dan jatuh bangun akhirnya Dtech Engineering dapat menciptakan produk yang menjadi kunci utama sebuah permesinan dalam industri manufacturing yaitu mesin CNC atau Computers Numerical Control beserta software berbahasa Indonesia.

“Alhamdulillah tahun 2020 kita punya software pertama CNC di dunia yang menggunakan bahasa Indonesia, dari software, elektronik, chassis, kita sendiri yang bikin, jadi local containnya tinggi,” jelas pria lulusan SMKN 7 Semarang itu. Pemasaran dengan services end to end menjadi nilai lebih dari sistem pemasaran yang mereka jalankan. Kini perusahaan yang memiliki 200 karyawan binaan itu berhasil membuat nilai perusahaan Dtech Engineering ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.

Dtech Engineering ternyata juga memperhatikan sumber daya manusia (SDM) di dalam negeri, sehingga mereka memberikan pendidikan dengan merangkul akademi teknik yang ada di Salatiga. Arfian berharap Dtech Engineering bisa terus mengembangkan SDM yang nantinya bisa mereka rekrut juga.

Dtech-engineering menciptakan sistem pembelajaran berbasis inovasi berupa beasiswa sekolah gratis dibayar inovasi, Sustainable Education Project. Sistemnya mahasiswa ini berinovasi dan inovasinya dapat digunakan untuk membayar kuliah, menggaji dirinya sendiri dan juga membayar pajak.

Dengan program ini diharapkan pendidikan Indonesia bisa lebih sustain karena sistemnya pay forward. Dimana anak yang dibiayai pendidikan dan biaya hidupnya akan mengganti dengan memberikan Inovasi dan membantu adik tingkat mereka. Mengubah dari tuition based education system menjadi innovation based education system.

“Setelah bikin CNC ini kami mikir lagi ini bener nggak sih dengan adanya CNC ini bisa bikin kita jadi lebih inovatif. Akhirnya, kita join-an sama kampus, satu angkatan kita biayai (jurusan teknik mesin) angkatan pertama itu ada 15 anak. Kita kerja sama sama ATWM, itu akademi teknik yang ada di Salatiga. Terus akhir tahun kemarin kita nanya lagi komitmen mereka, Paid forward gantian mereka yang bayarin adik kelas, Kita sebut dengan sustainable educational project nggak cuma kita urus tapi kita handle awareness-nya 1 kakak tingkat bayarin kebutuhan 2 orang adik kelas. Jalan angkatan kedua 35 anak. Dan ternyata mereka semua lebih inovatif dari saya,” paparnya.

Harapan Arfian dan tim ke depannya mereka dapat mengembangkan produk CNC mereka dan terus meningkatkan indeks inovatif di Indonesia. “Mesin ini itu bisa bikin apa saja, kesehatan aerospace, military, consumer, household. ini adalah ibunya dari mesin. Mesin yang dibikin buat bikin mesin. Misal kita bikin mesin mobil kita perlu mesin CNC ini buat bikin itu,” ujar Arfian.

“Kami fokus untuk meningkatkan indeks inovasinya Indonesia, tahun ini kita mau kembangin lagi CNC kami. Mesin CNC milling, bubut, lima aksis, semoga 5 tahun lagi Global Inovative Index Indonesia dapat meningkat 50 persen,” imbuhnya. Pria berumur 36 tahun ini juga punya cita-cita tinggi yaitu bisa menyaingi Elon Musk dengan perushaan teknologinya yang terus berkembang.

Teknologi