Seberapa Siap Indonesia Kembangkan Energi Nuklir?

Seberapa Siap Indonesia Kembangkan Energi Nuklir?

Nuklir diakui banyak pihak sebagai sumber energi paling bersih karena menghasilkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca selama produksi listrik dibandingkan sumber energi lainnya seperti batubara dan gas. Tak heran bila sejumlah negara mulai meliriknya sebagai sumber energi di masa depan usai melalui masa transisi energi ini. Apalagi, energi nuklir bisa menghasilkan produksi listrik secara konsisten selama puluhan tahun, bahkan sampai 60 tahun.

Namun tidak bagi Indonesia. Mekipun nuklir dimasukkan ke dalam kelompok energi baru dan terbarukan (EBT) yang akan digunakan sebagai pembangkit listrik, namun sumber energi ini masih dijadikan sebagai energi alternatif dan pilihan terakhir.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (ASPERMIGAS), Moshe Rizal, mengungkapkan perlu pemahaman lebih dalam lagi tentang penggunaan energi nuklir sebagai energi alternatif di masa mendatang. Pasalnya, dibutuhkan sejumlah kajian, dari segi lingkungan hidup maupun keamanan.

“Pada dasarnya fasilitas nuklir dibangun dengan mengedepankan faktor keselamatan dan keamanan yang tinggi. Oleh sebab itu perlu dikaji lebih mendalam tentang penggunaan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang potensi gempanya rendah,” ungkap Moshe dalam Pelatihan Media ke-3 2022 dengan topik “Transisi Energi-Potensi, Bisnis Proses dan Outlook

Saat ini, menurutnya, banyak negara mulai mengembangkan energi nuklir. Amerika Serikat menjadi negara yang mengoperasikan PLTN terbanyak, disusul Perancis, China, Rusia, Jepang dan Korea Selatan. Hal senada juga disampaikan oleh Suparman dari Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI). Malahan, peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasioinal (BRIN) ini menyebutkan bahwa hingga kini ada 443 PLTN yang beroperasi di 32 negara.

“Selain itu, masih ada 51 PLTN yang sedang dibangun di 19 negara. Seperti China, India dan Korea,” Menurut Suparman, isu mengenai nuklir adalah sunset teknologi atau teknologi yang usang dan mulai ditinggalkan adalah tidak benar. Meskipun sempat menurun pembangunannya setelah tragedi Fukushima di Jepang, namun faktanya pembangunan PLTN tetap bertambah setelah tahun 2013.

Pembangunan PLTN di dunia tumbuh di 2,3 persen per tahun. Tragedi Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima tidak membuat surut pembangunan PLTN bahkan bauran energi nuklir di negara terkait. Sebut saja, Ukraina hampir 53 persen mengandalkan nuklir, demikian juga Jepang masih mengandalkan PLTN.

“Faktanya tidak semua yang berisiko tinggi menjadi berbahaya apabila dikelola dengan aturan dan prosedur, serta pengawasan terus-menerus secara ketat,

Lebih lanjut, Suparman menegaskan bahwa nuklir sebagai energi baru perlu dipertimbangkan secara serius oleh Pemerintah sebagai pemenuhan janji Indonesia mendapatkan lingkungan bebas emisi karbon. Pasalnya, nuklir adalah sumber energi ramah lingkungan karena emisi gas rumah kaca (GRK), footprint relatif kecil, tidak mengganggu keseimbangan ekosistem, serta limbahnya terkelola dan terkontrol dengan aturan yang jelas.

“Program net zero emissions (NZE) diharapkan bisa mendorong penggunaan energi nuklir di Indonesia. Pasalnya, energi nuklir diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi dan target NZE karena bersih, handal dan kapasitas yang besar,

PLTN bersifat handal karena dapat mencapai kapasitas maksimum, beroperasi 24 jam tanpa sela. Pembangkit listrik ini juga bersifat berkelanjutan karena potensi bahan bakar masih tersedia, dan bahan bakar bekas berpotensi dapat didaur ulang menjadi bahan bakar baru. Selain menjadi solusi transisi energi, PLTN juga menjadi solusi terhadap perubahan iklim dan pemanasan global.

Indonesia Siap

Ketika ditanya apakah Indonesia siap membangun dan mengoperasikan PLTN? Surparman hanya menyebutkan bahwa Indonesia sudah punya pengalaman membangun dan mengoperasikan tiga reaktor riset dengan aman dan tanpa adanya adanya kecelakaan. Reaktor tersebut berada di Serpong (Banten) dengan kapasitas 30 megawatt (MW), Bandung (Jawa Barat) 2 MW dan Yogyakarta 100 kW. Indonesia juga berpengalaman mengelola limbah nuklir.

“Hingga kini sudah ada calon lokasi pembangunan PLTN, yakni di Jepara dan Bangka-Belitung. Status saat ini, pembangunan PLTN di Indonesia masih pada tahap 1, yaitu sedang mempertimbangkan pembangunan PLTN. Kegiatan riset PLTN perlu dukungan pendaan yang terus menerus dari Pemerintah guna kemandirian teknologi,”

Suparman menjelaskan bahwa BRIN/BATAN telah melakukan kegiatan penelitian calon tapak PLTN sesuai dengan kriteria keselamatan yang sudah ditentukan. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Povinsi Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Batam dan NTB.

Penelitian tersebut sekaligus untuk mendapatkan calon tapak potensial sehingga dapat diperoleh beberapa opsi calon tapak PLTN yang memenuhi persyaratan keselamatan baik dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) maupun International Atomic Energy Agency (IAEA).

“Muria dan Bangka sudah dinyatakan layak. Banten telah dilakukan studi namun belum dievaluasi. Kaltim, Kalbar dan Batam sudah dilakukan pra-survei. Sementara NTB masih dalam tahap pra-survei,” paparnya.

Selain menentukan lokasi calon tapak PLTN, BATAN juga tengah merencanakan pembangunan reaktor daya non komersial (RDNK) untuk kepentingan riset bernama proyek Reaktor Daya Eksperimental (RDE). Ini merupakan suatu strategi pemerintah untuk mengenalkan reaktor nuklir yang menghasilkan listrik dan sekaligus dapat digunakan untuk eksperimen/riset.

RDE bakal menjadi PLTN mini yang di masa depan dapat diaplikasikan di daerah yang tidak membutuhkan daya besar, terutama di wilayah Indonesia Bagian Tengah dan Timur. RDE juga dapat digunakan sebagai sarana penguasaan teknologi bagi putra-putri Indonesia dalam manajemen pembangunan, pengoperasian dan perawatan reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. Selain itu, fasilitas ini juga akan digunakan sebagai sarana demonstrasi teknologi dan edukasi kepada seluruh stakeholders bahwa PLTN aman, ramah lingkungan dan ekonomis sebagai pembangkit listrik.

Teknologi