Perkembangan teknologi informasi di era industri 4.0, dinilai akan menggerus tenaga manusia di dunia kerja. Disebutkan bahwa masyarakat bakal bersinggungana

Perkembangan teknologi informasi di era industri 4.0, dinilai akan menggerus tenaga manusia di dunia kerja. Disebutkan bahwa masyarakat bakal bersinggungana

Perkembangan teknologi informasi di era industri 4.0, dinilai akan menggerus tenaga manusia di dunia kerja. Disebutkan bahwa masyarakat bakal bersinggungan langsung dengan teknologi sehingga akan banyak perkerjaan yang tidak lagi membutuhkan tenaga manusia.

Hal ini, disampaikan oleh Executive Director Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji saat menjadi narasumber webinar Utilisasi Teknologi Sebagai Pendukung Karya Tulis, Feedback dan Penilaian yang diselenggarakan oleh perusahaan teknologi integritas akademik Turnitin baru-baru ini. akan terjadi transisi di mana kebutuhan fisik semakin berkurang sedangkan kebutuhan kecerdasan atau kemampuan berpikir semakin meningkat.

McKinsey Global Institute telah memprediksikan jika pada 2030 ada sekitar 400-800 juta manusia yang pekerjaannya akan digantikan oleh mesin atau robot. Dulu kita dituntut untuk menghafal, memahami dan mengaplikasi informasi dalam situasi yang dikenal. Maka sekarang kita dituntut berada pada level mencipta, yaitu mengeluarkan ide, produk baru dan cara pandang baru.

Menurutnya, dunia telah mamasuki zaman industri 4.0, yaitu era informasi. Kalau era sebelumnya, orang yang punya formula untuk menciptakan produk tertentu yang akan menguasai (industri). Pada masa tersebut, kerahasiaan merupakan hal yang sangat penting. Sedangkan saat ini, informasi begitu terbukanya sehingga kita bisa mengakses dengan mudah. Indra menerangkan, perubahan era industri menuntut banyak hal dalam metode pembelajaran. Dalam setiap zaman masyarakat memiiki metode belajar yang berbeda-beda bergantung dari kebutuhan pada masa tersebut.

“Di era Industri 1.0 misalnya, metode pendidikan lebih menekankan pada unsur kemandirian, bukan lembaga atau institusi resmi. Masyarakat saat itu mengumpulkan makanan dan berpindah-pindah tempat (nomaden) sehingga mereka belajar sendiri tentang bagaimana cara menggunakan panah, berburu, pakai tombak dan sebagainya,” papar dia.

Barulah saat memasuki era 2.0, sambung Indra, masyarakat mulai belajar tentang berternak dan budidaya menggantikan berburu. Di sini, mulai dikenal konsep baca tulis meskipun bukan sebuah keharusan. Pada masa ini, sudah mulai muncul istilah karyawan dan pemberi pekerjaan. Sementara itu, terang dia, era 3.0 merupakan era manufaktur menuntut kemampuan membaca, menulis, dan berhitung karena masyarakat sudah mulai bekerja di pabrik-pabrik.

Teknologi