Kenaikan Suku Bunga, Sektor Teknologi dan Konstruksi Masih Tumbuh

Kenaikan Suku Bunga, Sektor Teknologi dan Konstruksi Masih Tumbuh

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan memberikan imbas, baik positif maupun negatif terhadap kinerja para emiten di bursa saham.Head Of Research Jasa Utama Capital Sekuritas, Cheril Tanuwijaya memaparkan kenaikan suku bunga BI berpotensi membawa rupiah kembali perkasa sehingga bagus untuk emiten yang sensitif terhadap nilai tukar rupiah. Secara umum sektor yang sensitif dengan nilai tukar rupiah akan bergerak volatile jelang keputusan RDG BI ini, seperti sektor farmasi dan kesehatan.

Seperti yang diketahui, sebagian besar emiten sektor farmasi masih bergantung pada impor bahan baku sehingga dengan rupiah yang semakin melemah maka beban perusahaan akan meningkat. Sebaliknya, dengan adanya potensi kenaikan suku bunga, maka sektor teknologi, sektor konstruksi dan properti akan kurang diuntungkan karena punya utang yang relatif besar sehingga suku bunga BI bisa menambah beban.

Sektor Properti & Real Estate akan tertekan karena masyarakat bisa mengurungkan niatnya untuk membeli properti. Menurutnya, dampak tersebut relatif minim hal ini mengingat tren suku bunga di Indonesia masih relatif rendah. “Meski sektor teknologi dan konstruksi bisa agak tertekan, tapi masih berpotensi tumbuh di tahun ini seiring pemulihan ekonomi bisa meningkatkan permintaan layanan digital dan konsumsi bisa naik asalkan pertumbuhan ekonomi stabil.

Menjelang keputusan RDG BI ini, Cheril mengunggulkan sektor keuangan. Pertimbangannya, kenaikan suku bunga ini berpotensi menggerek pendapatan para emiten keuangan. Tak hanya itu, kalau BI menaikkan suku bunga akan menarik investor asing untuk kembali masuk ke bursa saham Indonesia, sehingga asing bisa berpotensi membeli emiten yang punya kapitalisasi jumbo khususnya perbankan big caps.

Teknologi