Drone MALE Elang Hitam Siap Jaga Kedaulatan Indonesia dari Angkasa, Hendak Sematkan Rudal

Drone MALE Elang Hitam Siap Jaga Kedaulatan Indonesia dari Angkasa, Hendak Sematkan Rudal

Indonesia menjadi salah satu negara yang turut mengembangkan drone untuk kebutuhan militer. Keberadaan drone dalam meningkatkan kekuatan militer dilakukan Indonesia. Drone yang siap untuk memperkuat militer Indonesia di masa depan yakni ada Elang Hitam. Elang Hitam tergolong ke dalam jenis Medium Altitude Long Endurance atau MALE. Keberadaan drone Elang Hitam tentunya akan memperkuat pertahanan Indonesia di masa depan.

Kemampuan dari drone MALE Elang Hitam Indonesia juga tak kalah canggih. pesawat udara nirawak bertipe medium altitude long endurance (MALE) ini memiliki daya tahan lama. Elang Hitam Indonesia disebut memiliki daya terbang dengan ketinggian 10.000-30.000 ribu kaki. mampu terbang tanpa henti hingga tiga puluh jam. Kecepatan PUNA MALE Elang Hitam pun mencapai 235 km/jam.

Soal ukuran dari MALE Elang Hitam yakni memiliki bobot mencapai 1.300 kg. Sedangkan untuk panjang Elang Hitam mencapai 8,65 meter dengan bentang sayap 16 meter. Drone ini ke depannya dirancang mampu membawa bobot hingga 300 kilogram. Dengan spesifikasi dan kemampuan yang mumpuni seperti itu, keberadaan PUNA MALE Elang Hitam tentu diharapkan bisa mampu menjaga kedaulatan Indonesia. Drone Elang Hitam diharapkan bisa menjaga kedaulatan Indonesia baik di darat, laut maupun udara dengan pantauan dari angkasa.

“Ke depannya, drone ini ditargetkan memiliki kemampuan drone CH-4 dari pabrikan Tiongkok yang belum lama ini dibeli oleh TNI Angkatan Udara. PUNA MALE Elang Hitam sendiri ditargetkan akan mengudara pada tahun 2024 dengan penyempurnaan ke depannya dapat mengangkut roket. Rencananya PUNA MALE diintegrasikan dengan roket FFAR (Folding Fin Aerial Rocket) kaliber 70 milimeter produksi PT. Dirgantara indonesia.

Indonesia dikabarkan siap menggandeng Turki untuk pengembangan rudal yang digunakan Elang Hitam. Laporan yang dibagikan MilitaryLeak, membeberkan perihal siap digandengnya Turki oleh Indonesia. hendak bekerja sama dalam upaya peningkatan kekuatan Elang Hitam. “Indonesia telah membentuk pengaturan kerja sama dengan organisasi penelitian pertahanan Turki untuk mengembangkan jenis baru rudal udara-ke-permukaan modular yang dapat dikerahkan pada kendaraan udara tak berawak (UAV).

Kerja sama ini melibatkan para insinyur dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Indonesia dan Badan Penelitian Ilmiah dan Teknologi Lembaga Penelitian dan Pengembangan Industri Pertahanan (SAGE) Turki (TUBITAK). Janes melaporkan bahwa BPPT dan SAGE sedang mengerjakan jenis rudal udara-ke-permukaan modular yang dapat dikonfigurasi untuk berbagai rangkaian misi, mulai dari operasi anti-kapal hingga misi serangan darat. Sensor dan muatan rudal akan dapat dipertukarkan, bahkan dalam waktu singkat.

Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk melengkapi kendaraan udara tak berawak (UAV) ketinggian menengah, daya tahan panjang (MALE) yang dikembangkan di dalam negeri Indonesia dengan kemampuan serangan permukaan. Pada 30 Desember 2020 Dirgantara Indonesia (PT Dirgantara Indonesia atau PTDI) telah meluncurkan prototipe kendaraan udara tak berawak (UAV) ketinggian menengah, daya tahan panjang (MALE) yang dikembangkan secara pribumi yang melihat sejumlah misi domestik Prototipe yang dijuluki Elang Hitam ini diresmikan ke publik di fasilitas PTDI di Bandung.

Platform tersebut merupakan produk konsorsium Indonesia yang meliputi perusahaan elektronik milik negara PT Len, TNI AU, dan National Institute of Aeronautics and Space. Elang Hitam telah memasukkan beberapa aspek desain UAV CH-4 Tiongkok yang baru-baru ini dibeli oleh Angkatan Udara Indonesia dan akan mengisi 2 skuadron udara tak berawak militer di masa depan. Angkatan Udara Indonesia juga telah menerima batch pertama rudal udara-ke-permukaan, berpemandu presisi ar-2 buatan Tiongkok. AR-2 dirancang untuk seri CH kendaraan udara tak berawak bersenjata (UAV), yang dikembangkan dan diproduksi oleh China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC).

AR-2 mengandalkan sistem panduan inersianya untuk pembaruan tengah kursus dan pada pencari laser semi-aktif (SAL) untuk homing terminal. Dengan berat sekitar 20 kilogram dan hulu ledak 5 kg, AR-2 memiliki jangkauan maksimum 8 kilometer dan kecepatan tertinggi 735 kilometer per jam.” Kemampuan Indonesia dalam mengembangkan alutsista memang sangat luar biasa.

Banyak industri pertahanan nasional yang berhasil membuat berbagai alutsisat mumpuni. Misalnya ada PT Pindad yang berhasil mengembangkan berbagai ranpur dan rantis buatan lokal. Ranpur dan rantis made in Indonesia seperti Anoa, Badak hingga Komodo.

Selain itu masih banyak lagi yang berhasil dibuat PT Pindad.

Ada sistem persenjataan macam SS1, SS2 dan sebagainya. Ini menunjukkan bila industri pertahanan Indonesia sudah sangat berkembang. Dan, salah satu yang terbaru, Indonesia dan Turki bekerja sama dalam pengembangan tank Harimau.

Teknologi